1. Metode
Ceramah
Metode ceramah adalah metode yang boleh
dikatakan metode tradisional, yang lebih banyak menuntut keaktifan guru dari pada
anak didik. Cara mengajar dengan
ceramah dapat dikatakan juga sebagai teknik kuliah, merupakan suatu cara
mengajar yang digunakan untuk menyampaikan
keterangan atau informasi informasi atau uraian tentang suatu pokok persoalan serta masalah secara lisan.
Metode ceramah adalah metode penyampaian bahan pelajaran
secara lisan. Metode ini banyak dipilih guru karena mudah dilaksanakan dan
tidak membutuhkan alat bantu khusus serta tidak perlu merancang kegiatan siswa.
Dalam pengajaran yang menggunakan metode ceramah terdapat unsur paksaan. Dalam
hal ini siswa hanya diharuskan melihat dan mendengar serta mencatat tanpa
komentar informasi penting dari guru yang selalu dianggap benar itu. Padahal
dalam diri siswa terdapat mekanisme psikologis yang memungkinkannya untuk
menolak disamping menerima informasi dari guru. Inilah yang disebut kemampuan
untuk mengatur dan mengarahkan diri.
Seperti diketahui bahwa matematika
merupakan ilmu yang memerlukan prasyarat untuk dapat dimengerti. Metode ini
dapat dipakai dalam pembelajaran matematika jika bertujuan memberikan
informasi, materi yang disajikan belum ada dalam sumber – sumber lain, materi
sajian telah disesuaikan dengan kemampuan kelompok yang akan menerimanya,
materinya menarik atau dibuat menarik dan setelah ceramah selesai diadakan cara
lain untuk pengendapan agar lebih lama dapat diingat. Metode ini sebaiknya
tidak dipakai apabila tujuan instruksionalnya bukan hanya memberikan informasi,
tetapi misalnya agar siswa kreatif, terampil, atau menyangkut aspek kognitif
yang lebih tinggi, diperlukan ingatan yang lama, diperlukan partisipasi aktif
dari siswa untuk mencapai tujuan instruksional, dan kemampuan kelas rendah
(Erman Suherman & udin S.W, 1993 : 242-243)
2. Metode
Ekapositori
Metode ekspositori adalah suatu penyajian visual dengan
menggunakan benda dua dimensi atau tiga dimensi, dengan maksud mengemukakan
gagasan atau sebagai alat untuk membantu menyampaikan informasi yang
diperlukan.
Metode
ini dominasi guru banyak berkurang, karena tidak terus-menerus bicara. Guru
berbicara pada awal pelajaran, menerangkan materi dan contoh soal, dan pada
waktu-waktu yang diperlukan saja. Siswa tidak hanya mendengar dan membuat
catatan. Tetapi juga membuat soal latihan dan bertanya kalau tidak mengerti.
Guru dapat memeriksa pekerjaan siswa secara individual, menjelaskan lagi kepada
murid secara individual atau klasikal.
Metode
ekspositori sama seperti metode ceramah dalam hal terpusatnya kegiatan pada
guru sebagai pemberi informasi (bahan pelajaran). Metode ekspositori merupakan
cara mengajar yang efektif dan efisien dan sering digunakan dalam pembelajaran
matematika. Guru selain menyampaikan materi dengan ceramah juga memberikan
latihan-latihan, terkadang siswa juga dituntut untuk membuat soal latihan dan
guru memeriksa pekerjaan siswa. Siswa yang tidak mengerti bisa meminta
penjelasan secara individual kepada guru.
3. Metode
Demontrasi
Metode demonstrasi
adalah cara penyajian bahan pelajaran dengan meragakan atau mempertunjukkan kepada
siswa suatu proses, situasi,
atau benda tertentu yang sedang dipelajari, baik sebenarnya ataupun
tiruan-tiruan, yang sering sertai dengan penjelasan lisan. Alat demonstrasi yang paling pokok
adalah papan tulis dan white board, mengingat fungsinya yang multi proses.
Dengan menggunakan papan tulis guru dan siswa dapat
menggambarkan objek, membuat skema, membuat hitungan matematika, dan lain –
lain.
Dengan metode demonstrasi, proses penerimaan siswa terhadap pelajaran akan lebih berkesan secara mendalam, sehingga membentuk pengertian dengan baik dan sempurna. Juga siswa
dapat mengamati dan memperhatikan apa yang diperlihatkan selesainya pelajaran berlangsung.
Metode
demonstrasi baik digunakan untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang hal-hal yang
berhubungan dengan proses
mengatur sesuatu, proses membuat sesuatu, proses bekerjanya sesuatu, proses mengerjakan atau menggunakannya, komponen-komponen
yang membentuk sesuatu, membandingkan suatu
cara dengan cara lain, dan untuk mengetahui atau melihat kebenaran sesuatu.
Metode demonstrasi sejenis dengan metode sebelumnya,
yaitu didominasi guru. Akan tetapi dalam perkembangannya demonstrasi bisa
dilakukan oleh siswa yang sudah paham akan materi. Ciri khas metode demonstrasi
tampak dari adanya penonjolan mengenai suatu kemampuan, misalnya kemampuan guru
membuktikan teorema, menurunkan rumus, atau memecahkan soal cerita. Sedangkan
yang berhubungan dengan alat, misalnya pemakaian sepasang segitiga untuk
menggambarkan dua garis sejajar atau tegak lurus, jangka, dan segitiga untuk
membuat lukisan – lukisan geometri, penggunaan daftar, mistar hitung, atau
kalkulatoruntuk melakukan perhitungan-perhitungan.
Setelah demonstrasi selesai, apakah itu dilakukan oleh
guru atau siswa, hendaknya disusul dengan kegiatan diskusi. Dalam diskusi ini
dapat diberikan atau diminta komentar, kritik dan saran, atau penjelasan yang
berhubungan dengan demonstrasi yang dilakukan. Diskusi ini penting, terutama
jika demonstrasi dilakukan oleh siswa (Erman Suherman & udin S.W, 1993 :
244).
4. Metode
Drill dan Latihan
Metode latihan yang disebut juga metode training, merupakan suat cara mengajar yang baik untuk
menanamkan kebiasaan-kebiasaan tertentu.
Juga sebagai sarana untuk memelihara
kebiasaan-kebiasaan yang baik. Selain itu, metode ini ni dapat juga digunakan untuk memperoleh
suatu ketangkasan, ketepatan, kesempatan, dan keterampilan.
Banyak alat yang dapat membantu orang
untuk berhitung cepat dan cermat, misalnya : daftar kuadrat, daftar akar,
dekak-dekak dan kalkulator. Tetapi berhitung cepat dan cermat tanpa alat di
sekolah tetap diperlukan. Tujuan dari metode drill misalnya siswa mampu
menghafal fakta-fakta perkalian dalam ingatan. Sedangkan kemampuan menyelesaikan
soal dengan cepat dan cermat dapat dilakukan dengan metode latihan. Dalam hal
ini biasanya siswa dituntut berlatih mengingat suatu algoritma/prosedur
mengerjakan soal.Misalnya mengerjakan soal operasi hitung aritmetika, bagaimana
melukis garis-garis istimewa dalam segitiga, mengerjakan soal menarik ,
pemecahan sistem persamaan dan pertidaksamaan linear dua atau lebih variabel
dan sebagainya. (Erman Suherman & udin S.W, 1993 : 246).
5. Tanya
Jawab
Metode tanya
jawab adalah cara penyajian pelajaran dalam bentuk
pertanyaan yang harus dijawab, terutama dari guru kepada siswa, tetapi dapat pula dari siswa kepada guru. Metode
tanya Jawab adalah yang tertua dan banyak digunakan dalam proses pendidikan, baik di lingkungan keluarga, masyarakat maupun di sekolah.
Metode tanya jawab dapat menarik dan memusatkan perhatian
siswa. Dengan mengajukan pertanyaan yang terarah, siswa akan tertarik dalam
mengembangkan daya pikir. Kemampuan berpikir siswa dan keruntutan dalam
mengemukakan pokok – pokok pikirannya dapat terdeteksi ketika menjawab
pertanyaan. Metode ini dapat menjadi pendorong bagi siswa untuk mengadakan
penelusuran lebih lanjut pada berbagai sumber belajar. Metode ini akan lebih
efektif dalam mencapai tujuan apabila sebelum proses pembelajaran siswa ditugasi
membaca materi yang akan dibahas.
Metode
tanya jawab dapat menarik dan memusatkan perhatian siswa. Dengan mengajukan
pertanyaan yang terarah, siswa akan tertarik dalam mengembangkan daya pikir.
Kemampuan berpikir siswa dan keruntutan dalam mengemukakan pokok – pokok
pikirannya dapat terdeteksi ketika menjawab pertanyaan.
Agar siswa aktif dalam kegiatan pembelajaran dengan
metode tanya jawab sebaiknya guru bertindak sebagai berikut :
a) Menghargai
jawaban, pertanyaan atau tindakan siswa bagaimana pun jelek mutunya. Misalnya
ketika kelas sedang membuat soal latihan pemfaktoran bentuk x2+2x-21,
ada siswa yang mengganggu teman-temannya dengan pertanyaan bagaimana caranya
untuk mengubah suku tiga menjadi suku empat yang diperlukan. Manakah dari
pertanyaan dan pernyataan berikut sebaiknya diajukan. ” Kamu masih juga belum
dapat mengerjakan soal sesederhana itu?”atau ”Bagus, kamu bertanya sekarang.
Kalau tidak, kamu akan mendapat kesukaran dalam pemfaktoran bentuk ax2+bx+c,
penyelesaian persamaan dan pertidaksamaan kuadrat.
b) Menerima
jawaban siswa lalu memeriksanya dengan mengajukan pertanyaan
c) Merangsang
siswa aktif berpartisipasi dengan menjawab pertanyaan, mengemukakan pendapat,
atau mendemonstrasika hasil berpikirnya di depan kelas.
d) Bertindak
seolah-olah belum tahu atau membuat kekeliruan disengaja. Cara ini dapat
meningkatkan aktivitas siswa dan mereka menjadi lebih kritis.
Mengajukan pertanyaan yang tinggi. Dalam metode tanya
jawab sebaiknya menggunakan kata tanya seperti mengapa, bagaimana, dari mana,
bilaman yang dimana akan menghasilkan jawaban yang bermutu tinggi. (Erman Suherman & udin S.W, 1993 :
248-249).
6. Penemuan
Metode penemuan adalah metode dimana siswa menemukan sendiri
suatu informasi. Pengajaran dengan metode penemuan berharap agar siwa
benar-benar aktif menemukan sendiri bahan yang dipelajari (discovery
learning). Melaksanakan pengajaran dengan metode penemuan harus
memperhatikan siswa yang cerdas dan yang kurang kecerdasannya. Bagi yang cerdas
hendaknya diberi tugas yang lain agar mereka tidak bosan menunggu
teman-temannya yang belum berhasil menemukan jawabannya. Tetapi diusahakan agar
jawaban atau hasil akhir itu tetap ditemukan sendiri olehnya. Proses penemuan
ini bisa dilakukan dengan terbimbing maupun tidak.
Untuk merencanakan pembelajaran dengan metode penemuan
hendaknya diperhatikan hal-hal berikut :
a) Aktivitas siswa untuk
belajar sendiri sangat dipengaruhi,
b) Hasil(bentuk) akhir harus
ditemukan sendiri oleh siswa,
c) Prasyarat-prasyarat yang diperlukan
sudah dimiliki siswa,
d) Guru hanya bertindak sebagai
pengarah dan pembimbing saja, bukan pemberitahu.
Kata
penemuan sebagai metode pembelajaran merupakan penemuan yang dilakukan oleh
siswa sehingga siswa lebih aktif. Penemuan disini sebenarnya bukan menemukan
sesuatu yang baru. Akan tetapi siswa dibimbing untuk menemukan suatu konsep.
Sebagai contoh :mUntuk mengajarkan sifat komutatif dengan metode penemuan,
siswa diberi sejumlah soal perkalian sebagai berikut:
Kerjakan
soal-soal berikut :
2
x 6 = ….
5 x 3 = ….
7
x 4 =
….
6 x 2 = ….
3
x 5 =
….
4 x 7 = ….
9
x 1 =
….
1 x 9 = ….
Perhatikan
hasil – hasil yang kalian peroleh.
Adakah
hasilnya yang sama?
Kesimpulan
apa yang dapat kalian tarik dari soal – soal itu?
Metode
penemuan di atas memerlukan bimbingan dengan pertanyaan, sehingga disebut
penemuan terbimbing. (Erman Suherman &
udin S.W, 1993 : 250-251).
7. Inquiri
Metode inkuiri
memiliki kesamaan dengan
metode penemuan dalam
hal siswa menemukan sesuatu.
Tetapi hasil yang
ditemukan siswa pada
metode penemuan (discovery) adalah penemuan kembali, sedangkan dalam
inkuiri hasil penemuan benar-benar baru. Metode inkuiri ini dapat dilakukan
dalam 4 tahap :
1) Guru merangsang
siswa dengan pertanyaan, masalah,
permainan dan teka teki
2) Sebagai jawaban
atas rangsangan yang
diterimanya, siswa menentukan prosedur mencari
dan mengumpulkan informasi
atau data yang
diperlukan untuk memecahkan pertanyaan, pernyataan, dan masalah.
3) Siswa menghayati
pengetahuan yang diperolehnya
dengan inkuiri yang baru dilaksanakan
4) Siswa menganalisis
metode inkuiri dan
prosedur yang ditemukan untuk dijadikan metode umum yang
dapat diterapkannya ke situasi lain.
Sebagai contoh adalah menentukan kepadatan lalu-lintas di perempatan
atau menentukan air
yang terbuang percuma dari kran air yang rusak.
8. Permainan
Permainan matematika adalah suatu kegiatan yang
menggembirakan yang dapat menunjang tercapainya tujuan instruksional pengamatan
matematika. Tujuan ini dapat menyangkut aspek kognitif, afektif dan
psikomotorik. Walaupun permainan matematika menyenangkan penggunaannya harus
dibatasi, tidak dilaksanakan seingatnya saja. Barangkali sekali-kali dapat juga
diberikan untuk mengisi waktu, mengubah suasana tekanan tinggi, menimbulkan
minat dan sejenisnya. Seharusnya direncanakan dengan tujuan instruksional yang
jelas, tepat penggunaannya dan tepat pula waktunya.
Permainan yang mengandung nilai-nilai matematika dapat
meningkatkan ketrampilan, penanaman konsep, pemahaman, dan pemantapannya,
meningkatkan kemampuan menemukan, memecahkan masalah dan sebagainya. Oleh
karena itu penerapannya sebaiknya terpadu dengan kegiatan pembelajaran. (Erman Suherman & udin S.W, 1993 : 258-259).
Metode permainan
diarahkan agar pembelajaran matematika lebih menarik dan menyenangkan. Akan tetapi, permainan
ini harus mengandung nilai-nilai matematika dalam meningkatkan penanaman
konsep, pemahaman, pemantapan dan keterampilan.
Sebagai contoh,
untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam menguasai urutan bilangan, maka siswa
dapat dibariskan dalam satu barisan dan
siswa yang paling kiri menyebutkan
bilangan awal yang
kurang dari 10.
Murid
selanjutnya menyebutkan bilangan kelipatannya.
Contoh lain
untuk meningkatkan penguasaan siswa tentang bilangan prima, dibuat sebuah
lingkaran dari siswa-siswa.
Kemudian
ditunjuk seorang siswa untuk mulai menyebutkan bilangan satu, kemudian secara bergiliran
bergerak ke arah kanan menyebutkan bilangan selanjutnya. Jika seorang siswa mendapat
giliran menyebutkan bilangan prima maka ia tepuk tangan, jika ada siswa yang
menyebutkan bilangan prima atau tidak tepuk tangan, maka ia dihukum oleh
teman-temannya.
9. Pemberian
Tugas
Metode ini berarti guru memberi tugas tertentu agar siswa
melakukan kegiatan belajar. Metode ini dapat mengembangkan kemandirian siswa,
meransang untuk belajar lebih banyak, membina disiplin dan tanggung jawab
siswa, dan membina kebiasaan mencari dan mengolah sendiri informasi. Tetapi
dlam metode ini sulit mengawasi mengenai kemungkinan siswa tidak bekerja secara
mandiri.
BAB
III
PENUTUP
3.1
KESIMPULAN
3.2 SARAN
DAFTAR
PUSTAKA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar