Senin, 07 April 2014

METODE DAN TEKNIK PEMBELAJARAN MATEMATIKA








METODE DAN TEKNIK PEMBELAJARAN MATEMATIKA
1.      Metode Ceramah
Metode ceramah adalah metode yang boleh dikatakan metode tradisional, yang lebih banyak menuntut keaktifan guru dari pada anak didik. Cara mengajar dengan ceramah dapat dikatakan juga sebagai teknik kuliah, merupakan suatu cara mengajar yang digunakan untuk menyampaikan keterangan atau informasi informasi atau uraian tentang suatu pokok persoalan serta masalah secara lisan.
Metode ceramah adalah metode penyampaian bahan pelajaran secara lisan. Metode ini banyak dipilih guru karena mudah dilaksanakan dan tidak membutuhkan alat bantu khusus serta tidak perlu merancang kegiatan siswa. Dalam pengajaran yang menggunakan metode ceramah terdapat unsur paksaan. Dalam hal ini siswa hanya diharuskan melihat dan mendengar serta mencatat tanpa komentar informasi penting dari guru yang selalu dianggap benar itu. Padahal dalam diri siswa terdapat mekanisme psikologis yang memungkinkannya untuk menolak disamping menerima informasi dari guru. Inilah yang disebut kemampuan untuk mengatur dan mengarahkan diri.
Seperti diketahui bahwa matematika merupakan ilmu yang memerlukan prasyarat untuk dapat dimengerti. Metode ini dapat dipakai dalam pembelajaran matematika jika bertujuan memberikan informasi, materi yang disajikan belum ada dalam sumber – sumber lain, materi sajian telah disesuaikan dengan kemampuan kelompok yang akan menerimanya, materinya menarik atau dibuat menarik dan setelah ceramah selesai diadakan cara lain untuk pengendapan agar lebih lama dapat diingat. Metode ini sebaiknya tidak dipakai apabila tujuan instruksionalnya bukan hanya memberikan informasi, tetapi misalnya agar siswa kreatif, terampil, atau menyangkut aspek kognitif yang lebih tinggi, diperlukan ingatan yang lama, diperlukan partisipasi aktif dari siswa untuk mencapai tujuan instruksional, dan kemampuan kelas rendah (Erman Suherman & udin S.W, 1993 : 242-243)

2.      Metode Ekapositori
Metode ekspositori adalah suatu penyajian visual dengan menggunakan benda dua dimensi atau tiga dimensi, dengan maksud mengemukakan gagasan atau sebagai alat untuk membantu menyampaikan informasi yang diperlukan.
Metode ini dominasi guru banyak berkurang, karena tidak terus-menerus bicara. Guru berbicara pada awal pelajaran, menerangkan materi dan contoh soal, dan pada waktu-waktu yang diperlukan saja. Siswa tidak hanya mendengar dan membuat catatan. Tetapi juga membuat soal latihan dan bertanya kalau tidak mengerti. Guru dapat memeriksa pekerjaan siswa secara individual, menjelaskan lagi kepada murid secara individual atau klasikal.
Metode ekspositori sama seperti metode ceramah dalam hal terpusatnya kegiatan pada guru sebagai pemberi informasi (bahan pelajaran). Metode ekspositori merupakan cara mengajar yang efektif dan efisien dan sering digunakan dalam pembelajaran matematika. Guru selain menyampaikan materi dengan ceramah juga memberikan latihan-latihan, terkadang siswa juga dituntut untuk membuat soal latihan dan guru memeriksa pekerjaan siswa. Siswa yang tidak mengerti bisa meminta penjelasan secara individual kepada guru.

3.      Metode Demontrasi
Metode demonstrasi adalah cara penyajian bahan pelajaran dengan meragakan atau mempertunjukkan kepada siswa suatu proses, situasi, atau benda tertentu yang sedang dipelajari, baik sebenarnya ataupun tiruan-tiruan, yang sering sertai dengan penjelasan lisan. Alat demonstrasi yang paling pokok adalah papan tulis dan white board, mengingat fungsinya yang multi proses.
Dengan menggunakan papan tulis guru dan siswa dapat menggambarkan objek, membuat skema, membuat hitungan matematika, dan lain – lain.
Dengan metode demonstrasi, proses penerimaan siswa terhadap pelajaran akan lebih berkesan secara mendalam, sehingga membentuk pengertian dengan baik dan sempurna. Juga siswa dapat mengamati dan memperhatikan apa yang diperlihatkan selesainya pelajaran berlangsung.
Metode demonstrasi baik digunakan untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang hal-hal yang berhubungan dengan proses mengatur sesuatu, proses membuat sesuatu, proses bekerjanya sesuatu, proses mengerjakan atau menggunakannya, komponen-komponen yang membentuk sesuatu, membandingkan suatu cara dengan cara lain, dan untuk mengetahui atau melihat kebenaran sesuatu.
Metode demonstrasi sejenis dengan metode sebelumnya, yaitu didominasi guru. Akan tetapi dalam perkembangannya demonstrasi bisa dilakukan oleh siswa yang sudah paham akan materi. Ciri khas metode demonstrasi tampak dari adanya penonjolan mengenai suatu kemampuan, misalnya kemampuan guru membuktikan teorema, menurunkan rumus, atau memecahkan soal cerita. Sedangkan yang berhubungan dengan alat, misalnya pemakaian sepasang segitiga untuk menggambarkan dua garis sejajar atau tegak lurus, jangka, dan segitiga untuk membuat lukisan – lukisan geometri, penggunaan daftar, mistar hitung, atau kalkulatoruntuk melakukan perhitungan-perhitungan.
Setelah demonstrasi selesai, apakah itu dilakukan oleh guru atau siswa, hendaknya disusul dengan kegiatan diskusi. Dalam diskusi ini dapat diberikan atau diminta komentar, kritik dan saran, atau penjelasan yang berhubungan dengan demonstrasi yang dilakukan. Diskusi ini penting, terutama jika demonstrasi dilakukan oleh siswa (Erman Suherman & udin S.W, 1993 : 244).

4.      Metode Drill dan Latihan
Metode latihan yang disebut juga metode training, merupakan suat cara mengajar yang baik untuk menanamkan kebiasaan-kebiasaan tertentu. Juga sebagai sarana untuk memelihara kebiasaan-kebiasaan yang baik. Selain itu, metode ini ni dapat juga digunakan untuk memperoleh suatu ketangkasan, ketepatan, kesempatan, dan keterampilan.
Banyak alat yang dapat membantu orang untuk berhitung cepat dan cermat, misalnya : daftar kuadrat, daftar akar, dekak-dekak dan kalkulator. Tetapi berhitung cepat dan cermat tanpa alat di sekolah tetap diperlukan. Tujuan dari metode drill misalnya siswa mampu menghafal fakta-fakta perkalian dalam ingatan. Sedangkan kemampuan menyelesaikan soal dengan cepat dan cermat dapat dilakukan dengan metode latihan. Dalam hal ini biasanya siswa dituntut berlatih mengingat suatu algoritma/prosedur mengerjakan soal.Misalnya mengerjakan soal operasi hitung aritmetika, bagaimana melukis garis-garis istimewa dalam segitiga, mengerjakan soal menarik , pemecahan sistem persamaan dan pertidaksamaan linear dua atau lebih variabel dan sebagainya. (Erman Suherman & udin S.W, 1993 : 246).

5.      Tanya Jawab
Metode tanya jawab adalah cara penyajian pelajaran dalam bentuk pertanyaan yang harus dijawab, terutama dari guru kepada siswa, tetapi dapat pula dari siswa kepada guru. Metode tanya Jawab adalah yang tertua dan banyak digunakan dalam proses pendidikan, baik di lingkungan keluarga, masyarakat maupun di sekolah.
Metode tanya jawab dapat menarik dan memusatkan perhatian siswa. Dengan mengajukan pertanyaan yang terarah, siswa akan tertarik dalam mengembangkan daya pikir. Kemampuan berpikir siswa dan keruntutan dalam mengemukakan pokok – pokok pikirannya dapat terdeteksi ketika menjawab pertanyaan. Metode ini dapat menjadi pendorong bagi siswa untuk mengadakan penelusuran lebih lanjut pada berbagai sumber belajar. Metode ini akan lebih efektif dalam mencapai tujuan apabila sebelum proses pembelajaran siswa ditugasi membaca materi yang akan dibahas.
Metode tanya jawab dapat menarik dan memusatkan perhatian siswa. Dengan mengajukan pertanyaan yang terarah, siswa akan tertarik dalam mengembangkan daya pikir. Kemampuan berpikir siswa dan keruntutan dalam mengemukakan pokok – pokok pikirannya dapat terdeteksi ketika menjawab pertanyaan.
Agar siswa aktif dalam kegiatan pembelajaran dengan metode tanya jawab sebaiknya guru bertindak sebagai berikut :
a)      Menghargai jawaban, pertanyaan atau tindakan siswa bagaimana pun jelek mutunya. Misalnya ketika kelas sedang membuat soal latihan pemfaktoran bentuk x2+2x-21, ada siswa yang mengganggu teman-temannya dengan pertanyaan bagaimana caranya untuk mengubah suku tiga menjadi suku empat yang diperlukan. Manakah dari pertanyaan dan pernyataan berikut sebaiknya diajukan. ” Kamu masih juga belum dapat mengerjakan soal sesederhana itu?”atau ”Bagus, kamu bertanya sekarang. Kalau tidak, kamu akan mendapat kesukaran dalam pemfaktoran bentuk ax2+bx+c, penyelesaian persamaan dan pertidaksamaan kuadrat.
b)      Menerima jawaban siswa lalu memeriksanya dengan mengajukan pertanyaan
c)      Merangsang siswa aktif berpartisipasi dengan menjawab pertanyaan, mengemukakan pendapat, atau mendemonstrasika hasil berpikirnya di depan kelas.
d)     Bertindak seolah-olah belum tahu atau membuat kekeliruan disengaja. Cara ini dapat meningkatkan aktivitas siswa dan mereka menjadi lebih kritis.
Mengajukan pertanyaan yang tinggi. Dalam metode tanya jawab sebaiknya menggunakan kata tanya seperti mengapa, bagaimana, dari mana, bilaman yang dimana akan menghasilkan jawaban yang bermutu tinggi. (Erman Suherman & udin S.W, 1993 : 248-249).

6.      Penemuan
Metode penemuan adalah metode dimana siswa menemukan sendiri suatu informasi. Pengajaran dengan metode penemuan berharap agar siwa benar-benar aktif menemukan sendiri bahan yang dipelajari (discovery learning). Melaksanakan pengajaran dengan metode penemuan harus memperhatikan siswa yang cerdas dan yang kurang kecerdasannya. Bagi yang cerdas hendaknya diberi tugas yang lain agar mereka tidak bosan menunggu teman-temannya yang belum berhasil menemukan jawabannya. Tetapi diusahakan agar jawaban atau hasil akhir itu tetap ditemukan sendiri olehnya. Proses penemuan ini bisa dilakukan dengan terbimbing maupun tidak.
Untuk merencanakan pembelajaran dengan metode penemuan hendaknya diperhatikan hal-hal berikut :
a)      Aktivitas siswa untuk belajar sendiri sangat dipengaruhi,
b)      Hasil(bentuk) akhir harus ditemukan sendiri oleh siswa,
c)      Prasyarat-prasyarat yang diperlukan sudah dimiliki siswa,
d)     Guru hanya bertindak sebagai pengarah dan pembimbing saja, bukan pemberitahu.
Kata penemuan sebagai metode pembelajaran merupakan penemuan yang dilakukan oleh siswa sehingga siswa lebih aktif. Penemuan disini sebenarnya bukan menemukan sesuatu yang baru. Akan tetapi siswa dibimbing untuk menemukan suatu konsep. Sebagai contoh :mUntuk mengajarkan sifat komutatif dengan metode penemuan, siswa diberi sejumlah soal perkalian sebagai berikut:
Kerjakan soal-soal berikut :
2 x 6 = ….                       5 x 3 = ….
7 x 4 = ….                       6 x 2 = ….
3 x 5 = ….                       4 x 7 = ….
9 x 1 = ….                       1 x 9 = ….
Perhatikan hasil – hasil yang kalian peroleh.
Adakah hasilnya yang sama?
Kesimpulan apa yang dapat kalian tarik dari soal – soal itu?
Metode penemuan di atas memerlukan bimbingan dengan pertanyaan, sehingga disebut penemuan terbimbing. (Erman Suherman & udin S.W, 1993 : 250-251).

7.      Inquiri
Metode  inkuiri  memiliki  kesamaan  dengan  metode  penemuan  dalam  hal siswa  menemukan  sesuatu.  Tetapi  hasil  yang  ditemukan  siswa  pada  metode penemuan (discovery) adalah penemuan kembali, sedangkan dalam inkuiri hasil penemuan benar-benar baru. Metode inkuiri ini dapat dilakukan dalam 4 tahap :
1) Guru  merangsang  siswa  dengan  pertanyaan,  masalah,  permainan  dan  teka teki
2) Sebagai  jawaban  atas  rangsangan  yang  diterimanya,  siswa  menentukan prosedur  mencari  dan  mengumpulkan  informasi  atau  data  yang  diperlukan untuk memecahkan pertanyaan, pernyataan, dan masalah.
3) Siswa  menghayati  pengetahuan  yang  diperolehnya  dengan  inkuiri  yang baru dilaksanakan
4) Siswa  menganalisis  metode  inkuiri  dan  prosedur  yang  ditemukan untuk dijadikan metode umum yang dapat diterapkannya ke situasi lain.
Sebagai contoh  adalah menentukan  kepadatan lalu-lintas di perempatan
atau menentukan air yang terbuang percuma dari kran air yang rusak.

8.      Permainan
Permainan matematika adalah suatu kegiatan yang menggembirakan yang dapat menunjang tercapainya tujuan instruksional pengamatan matematika. Tujuan ini dapat menyangkut aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Walaupun permainan matematika menyenangkan penggunaannya harus dibatasi, tidak dilaksanakan seingatnya saja. Barangkali sekali-kali dapat juga diberikan untuk mengisi waktu, mengubah suasana tekanan tinggi, menimbulkan minat dan sejenisnya. Seharusnya direncanakan dengan tujuan instruksional yang jelas, tepat penggunaannya dan tepat pula waktunya.
Permainan yang mengandung nilai-nilai matematika dapat meningkatkan ketrampilan, penanaman konsep, pemahaman, dan pemantapannya, meningkatkan kemampuan menemukan, memecahkan masalah dan sebagainya. Oleh karena itu penerapannya sebaiknya terpadu dengan kegiatan pembelajaran. (Erman Suherman & udin S.W, 1993 : 258-259).
Metode permainan diarahkan agar pembelajaran matematika lebih  menarik dan menyenangkan. Akan tetapi, permainan ini harus mengandung nilai-nilai matematika dalam meningkatkan penanaman konsep, pemahaman, pemantapan dan keterampilan.
Sebagai contoh, untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam menguasai urutan bilangan, maka siswa dapat dibariskan dalam satu   barisan dan siswa yang paling  kiri   menyebutkan   bilangan   awal   yang   kurang   dari   10.
Murid selanjutnya menyebutkan bilangan kelipatannya.
Contoh lain untuk meningkatkan penguasaan siswa tentang bilangan prima, dibuat sebuah lingkaran dari siswa-siswa.
Kemudian ditunjuk seorang siswa untuk mulai menyebutkan bilangan satu, kemudian secara bergiliran bergerak ke arah kanan menyebutkan bilangan selanjutnya. Jika seorang siswa mendapat giliran menyebutkan  bilangan  prima maka ia tepuk tangan, jika ada siswa yang menyebutkan bilangan prima atau tidak tepuk tangan, maka ia dihukum oleh teman-temannya. 
    
9.      Pemberian Tugas
Metode ini berarti guru memberi tugas tertentu agar siswa melakukan kegiatan belajar. Metode ini dapat mengembangkan kemandirian siswa, meransang untuk belajar lebih banyak, membina disiplin dan tanggung jawab siswa, dan membina kebiasaan mencari dan mengolah sendiri informasi. Tetapi dlam metode ini sulit mengawasi mengenai kemungkinan siswa tidak bekerja secara mandiri.


























BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN

3.2 SARAN



















DAFTAR PUSTAKA



Tidak ada komentar:

Posting Komentar